. .

KURS PAJAK atau KURS TENGAH Bank Indonesia ???


re post tridifta, 25 September 2007

kepada pengasuh Yth,sehubungan dengan penggunaan mata uang asing (USD) dalam kegiatan transaksi usaha (pembelian barang), saya agak bingung dalam mengkonversi dari mata uang asing tersebut ke dalam rupiah, apa dengan menggunakan kurs pajak yang berlaku saat terjadinya transaksi atau menggunakan kurs tengah BI pada saat akhir bulan transaksi?kurs mana yang lebih tepat digunakan untuk meng-input inventory (persediaan)?dan kurs mana yang lebih tepat digunakan dalam penyusunan laporan keuangan?
Jawaban :

10 Oktober 2007

Kurs pada saat pembelian inventory (persediaan)

Pertanyaan Saudara lebih mengarah pada praktik akuntansinya. Berdasarkan PSAK No.10 paragrap 07, transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. Selanjutnya paragrap 08 mengatur bahwa untuk alasan praktis dimungkinkan (tidak harus) menggunakan suatu kurs yang mendekati kurs transaksi, misalnya suatu kurs rata-rata selama seminggu atau sebulan untuk seluruh transaksi dalam valuta asing yang terjadi selama periode itu. PSAK ini tidak memberikan secara spesifik kurs transaksi yang dimaksudkan, misalnya  apakah menggunakan kurs tengah BI ataupun kurs pembayaran pajak yang berlaku pada tanggal terjadinya transaksi, sehingga Saudara dimungkinkan untuk menggunakan salah satu dari keduanya pada saat mencatat Inventory. Meskipun demikian, umumnya perusahaan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal transaksi atau kurs neraca periode sebelumnya, sedangkan kurs KMK semata-mata digunakan untuk kepentingan pembayaran pajak.

Kurs pada saat penyusunan laporan keuangan

PSAK No.10 par 09 menghendaki bahwa pada setiap tanggal neraca, pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca yang praktiknya menggunakan kurs tengah BI. Inventory bukan termasuk pos moneter, sehingga tidak perlu dikonversi pada tanggal neraca. Yang Saudara konversi adalah pos Hutang yang timbul akibat transaksi pembelian tersebut sepanjang belum dilakukan pelunasan hingga tanggal pelaporan keuangan pada periode yang bersangkutan.

Pengakuan keuntungan dan kerugian selisih kurs menurut PSAK

PSAK No.10 Par 14 mengatur bahwa apabila timbulnya dan penyelesaian suatu transaksi berada dalam periode akuntansi yang sama, maka seluruh selisih kurs diakui dalam periode tersebut. Namun jika keduanya berada dalam beberapa periode akuntansi, maka selisih kurs harus diakui untuk setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode.

Pengakuan keuntungan dan kerugian selisih kurs untuk tujuan perpajakan

Untuk tujuan perpajakan, Saudara perlu memperhatikan penjelasan pasal 4 ayat (1) huruf l dan pasal 6 ayat (1) huruf e di mana pengakuan keuntungan atau kerugian sekisih kurs karena fluktuasi kurs mata uang asing, dikaitkan dengan sistim pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dengan syarat dilakukan dengan taat asas.

  1. Sistim pembukuan dengan kurs tetap (historis)Pengakuan/pencatatan keuntungan atau kerugian selisih kurs hanya satu kali saja yaitu pada saat terjadinya realisasi atas perkiraan mata uang asing tersebut. Jadi dalam hal ini Saudara tidak diperkenankan untuk mengkonversi pos-pos moneter pada tanggal neraca (akhir tahun).
  2. Sistim pembukuan dengan kurs tengah BI atau kurs yang sebenarnya berlaku akhir tahun.

Pengakuan/pencatatan keuntungan atau kerugian selisih kurs dilakukan pada setiap akhir tahun dan pada saat realisasi atas perkiraan mata uang asing tersebut. Rugi selisih kurs karena kebijaksanaan Pemerintah di bidang moneter dapat dibukukan dalam perkiraan sementara di neraca dan pembebanannya dilakukan bertahap berdasarkan realisasi mata uang asing tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>